Facebook dan Google Bisa-bisa Caplok Operator Seluler Indonesia

Spread the love

pada masa internet semacam saat ini, warga tidak dapat dipisahkan dari aplikasi-aplikasi terkenal semacam facebook, instagram, google, whatsapp, serta kawanannya. akses ke layanan-layanan itu lazimnya dilakukan via smartphone dengan membeli paket informasi seluler.

bila cuma ditilik dari cerminan tersebut, semestinya perkembangan layanan internet ataupun sering disebut over the top (ott) berbanding lurus dengan perkembangan industri telekomunikasi.

terus menjadi gencar warga bermain instagram serta chattingan via whatsapp, terus menjadi besar pula pemasukan operator dari aktivasi informasi pelanggan.

tetapi, tampaknya skema kedekatan antara ott serta operator tidak sesederhana itu. terlebih lagi, bila tidak hati-hati, perkembangan ott dikatakan dapat jadi bumerang untuk operator.

ikatan operator serta ott ini harus dikaji lebih dalam. butuh terdapat sinergi, tetapi regulasinya harus adil. bahwa tidak, lambat-laun ott (seperti google serta facebook) dapat beli operator, kata ceo lembaga studi telekomunikasi sharing vision, dimitri mahayana, dalam satu buah kegiatan di hotel century senayan, jakarta, kamis (1/12/2016).

ott mengambil alih layanan dasar telekomunikasi

alasannya, ott, seperti layanan chattingan line, wechat, skype, serta whatsapp, telah menggeser kedudukan layanan bawaan operator, yaitu sms serta telepon.

bagi informasi lembaga studi telekomunikasi sharing vision, pemasukan 3 operator tanah air dari sms serta telepon menampilkan tren pengurangan semenjak 2013 lalu.

pada 2013, rata-rata operator menemukan pemasukan 37 % dari telepon, setelah itu menurun menjadi 36 % pada 2014 serta terakhir 35 % pada 2015. seiring dengan itu, pemasukan dari sms juga menurun dari 17 % pada 2013 serta 2014 menjadi 16 % pada 2015.

benar, pemasukan dari informasi naik dari 14 % pada 2013, lalu 18 % pada 2014, sampai 22 % pada 2015. tetapi, butuh diingat kalau investasi modal ataupun capex untuk membangun infrastruktur informasi tidak murah.

pemasukan operator dari informasi pemakaian ott bertabiat semu

informasi sharing vision juga menampilkan kalau perkembangan pemasukan keseluruhan rata-rata operator condong linear semenjak 2008. persentase kenaikannya hanya 1, 65 % dari tahun ke tahun (yoy), itu juga disokong pemasukan informasi dari ott.

pengguna jasa operator seluler sudah melebihi penduduk indonesia, jadi sudah tersaturasi serta susah berkembang lagi. bisnisnya juga susah tumbuh sebab terdapat perang harga, kata dimitri.

kebalikannya, pemasukan rata-rata ott benar belum sebesar operator telekomunikasi, namun pertumbuhannya bertabiat eksponensial. persentase kenaikannya meraih 24, 4 % yoy semenjak 2008.

ott belum optimal mengeruk pasar akibatnya pertumbuhannya dari tahun ke tahun dapat melejit. terlebih seperti google yang layanannya banyak serta digunakan orang. seperti maps, itu lambat-laun dapat digunakan industri untuk sistem monitoring. youtube juga dipakai industri untuk beriklan, dimitri menarangkan.

bagi dimitri, peningkatan pemasukan operator dari pemasukan informasi cuma bernilai semu. karena, peningkatan itu tidak sanggup mengatasi peningkatan capex yang lebih besar.

ott yang tampaknya menyumbang pemasukan untuk operator sebenarnya cuma memakai operator bagaikan pipa saluran. operator tidak sanggup bergerak ke mana-mana untuk menumbuhkan bisnis, kecuali turut ketentuan main ott.

dalam artian, kala kebutuhan informasi melonjak, operator meraup pemasukan tidak seberapa serta harus keluarkan uang lebih banyak untuk memperluas kapasitas pipa saluran-nya.
butuh terdapat sinergi serta keadilan regulasi

salah satunya teknik yang dapat dilakukan operator merupakan bersinergi dengan para ott. tentu saja perihal ini harus dimediasi pemerintah melalui regulasi.

bahwa lawan sangat kuat, tidak harus dapat lagi dimusuhi, namun harus dirangkul dengan strategi sinergi, dimitri menuturkan.

sinergi itu dapat dilakukan lewat sebagian teknik. salah satunya dengan menciptakan paket bundle informasi dengan harga senantiasa untuk akses ott. mekanisme ini sudah dilakukan sebagian operator, semisal indosat dengan spotify serta xl dengan yonder.

terdapat juga teknik lain, semisal, operator menjual informasi ke pengiklan lewat ott, ataupun ott diharuskan menumpang infrastruktur operator. tentu saja bentuk-bentuk sinergi itu dapat didiskusikan antara ott, operator, serta pemerintah.

sepanjang ini, regulasi pemerintah dapat dibilang amat banyak memadu operator telekomunikasi. semisal saja terpaut pengeluaran lisensi, bhp telekomunikasi, bhp pita spektrum, ppn, pph, uso, tarif interkoneksi, layanan pelanggan, perizinan, serta birokrasi yang lain yang musti penuhi ketentuan.

sedangkan itu, pemain ott tidak memiliki ketentuan yang memadu seperti itu. mereka tidak membayar pengeluaran lisensi, tidak terdapat penarikan dana uso, serta tidak terdapat syarat layanan pelanggan akibatnya leluasa menumbuhkan bisnisnya.

bahwa sesuatu dikala ott hingga betul-betul mengakuisisi operator, bakal amat bahaya sebab komunikasi dipegang satu zona, kata dimitri.

Baca Juga: http://www.paketpedia.com/2016/12/cara-registrasi-prabayar-kartu-smartfren.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*